Kartu Pos dari Negeri Jauh

bis_surat_nepal.jpg

Apakah Anda gemar berkirim kartu pos selagi berlibur ke luar negeri? Nggak pernah ya? Kenapa? Karena sudah ada  SMS, BBM, WhatsApp, atau berbagai aplikasi lainnya yang lebih praktis untuk berkirim kabar. Mau telponan hemat juga bisa dengan aplikasi semacam Skype dan Line. Begitu pula jika ingin memamerkan suasana negara yang sedang dikunjungi, bisa posting foto dan update status di sosial media. Semua sudut kota yang kita singgahi dengan mudah terekam lewat kamera ponsel dan diunggah ke laman sosial media begitu nemu jaringan free wi-fi di hotel.  Continue reading “Kartu Pos dari Negeri Jauh”

Advertisements

Made in Indonesia

madeinitaly

“Aduuuhh, ternyata buatan Indonesia..!” seru seorang kawan sambil membentangkan blazer yang kemarin dibelinya dari butik Zara di Paris. Seruannya mengandung rasa kecewa yang dalam. “Lihat nih, Made in Indonesia…!” serunya lagi sambil menunjukkan jahitan label di balik baju barunya. Kami segera mendekat, lalu sama-sama terkejut begitu menyadari bahwa benar ada tulisan Made in Indonesia terjahit di sana. “Masak sudah jauh-jauh ke Paris dapetnya baju Made in Indonesia pula..,” gerutunya.  Continue reading “Made in Indonesia”

Wajah-wajah Indonesia di Volendam

volendam

“Gus Dur aja berfoto di sini, masak kita enggak?” komentar seorang Ibu pada suaminya sambil mengamati etalase sebuah studio foto pakaian tradisional kampung nelayan di Volendam, Belanda.

Di etalase itu memang terpampang foto Gus Dur dan keluarga berpose mengenakan busana tradisional Belanda. Mantan Presiden RI lain yang fotonya dipajang di sana adalah Megawati dan almarhum suaminya, Taufik Kiemas. Selain kedua tokoh politik tersebut, sederet wajah artis Indonesia menghiasi etalase dengan senyum ceria. Ada Rano Karno, Titiek Puspa, Maya Rumantir, Debby Sahertian, dan banyak lagi.  Continue reading “Wajah-wajah Indonesia di Volendam”

Melipir ke Edensor

Di bawah gerimis senja dalam suhu 7 derajat yang menggigit, saya berdiri sendirian di tepi jalan sunyi, menanti bus. Petang itu tinggal dua trayek bus ke kota Sheffield, yaitu bus pukul 17.49 dan 18.03. Jika saya tak setia berdiri di halte tanpa atap ini, hanya berupa tiang dengan papan kecil berisi jadwal bus, bisa-bisa terlewat dan harus bermalam entah di mana. Tak ada hostel di sini, hanya ada cottage yang tarifnya tidak masuk dalam budget backpacker berkantong rupiah seperti saya.  Continue reading “Melipir ke Edensor”

Banyak Gincu di Nisanmu

Sebuah makam yang terletak di divisi 20 kuburan Montparnasse, Paris, membuat langkah saya terhenti diiringi mata terbelalak dan mulut melongo, takjub. Nisan berukuran persegi yang memuat dua nama beken Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir itu dipenuhi kecupan bibir bergincu! Baru kali ini saya melihat batu nisan penuh gincu.

Continue reading “Banyak Gincu di Nisanmu”

Kisah Paspor Pertama 20 Tahun Lalu

IMG_3975

Kadang-kadang saya ngiri dengan anak saya. Ia sudah memiliki paspor sejak belum bisa jalan kaki. Saat itu usianya masih sekitar 8 atau 9 bulan ketika kami mengajaknya ke kantor imigrasi. Saya masih ingat bagaimana kami berdua kerepotan menghadapi polahnya yang nggak bisa tenang saat pengambilan foto. Bapaknya memangku sedangkan saya mengiming-iminginya dengan segala atraksi agar mukanya menghadap ke kamera. Beberapa kali pengambilan gambar nggak ada yang sempurna ala pas foto. “Bocah bayi ngurus paspor,” gumam saya geli sendiri.  Continue reading “Kisah Paspor Pertama 20 Tahun Lalu”