Kisah Paspor Pertama 20 Tahun Lalu

IMG_3975

Kadang-kadang saya ngiri dengan anak saya. Ia sudah memiliki paspor sejak belum bisa jalan kaki. Saat itu usianya masih sekitar 8 atau 9 bulan ketika kami mengajaknya ke kantor imigrasi. Saya masih ingat bagaimana kami berdua kerepotan menghadapi polahnya yang nggak bisa tenang saat pengambilan foto. Bapaknya memangku sedangkan saya mengiming-iminginya dengan segala atraksi agar mukanya menghadap ke kamera. Beberapa kali pengambilan gambar nggak ada yang sempurna ala pas foto. “Bocah bayi ngurus paspor,” gumam saya geli sendiri. 

Sementara saya sendiri baru mengurus paspor pertama saat memasuki usia 27 tahun! Sudah cukup uzur ya. Itu pun saya lakukan bukan karena sudah memiliki itinerary ke luar negeri. Sama sekali saya belum ada rencana ke LN. Pada masa itu, wisata ke luar negeri adalah kemewahan yang rasanya nggak bakal terbeli dengan gaji rupiah saya. Mana lagi krismon pula, kurs dolar meroket tinggi sekali. Sementara gaji karyawan di Jogja kan sedang-sedang saja.

Jadi buat apa saya mengurus paspor? Buat gaya-gayaan? Enggaklah. Meski saya belum memiliki rencana ke luar negeri dalam waktu dekat, saya sebenarnya punya mimpi besar sekolah di luar negeri. Penginnya sih bisa sekolah S2 di Belanda, tapi ikutan short course saat summer atau kursus-kursus singkat pun oke. Negeri yang saya impikan untuk bisa bersekolah atau kursus di luar negeri adalah Belanda dan Jerman. Pilih yang lintas benua sekalian dong.

Didorong oleh mimpi yang sok intelek itu, akhirnya di bulan Oktober 1998, di bulan ulang tahun saya yang ke-27, saya pun niat ingsun ngurus paspor. Sengaja saya mengurus paspor secara mandiri, nggak lewat travel agent apalagi calo. Padahal pada masa-masa itu, kantor imigrasi termasuk salah satu lahan subur dunia percaloan. Konon, menurut cerita-cerita yang beredar, orang dalam juga nyambi nyalo. Banyak yang menyarankan untuk mengurus lewat agen perjalanan daripada nantinya malah jadi korban calo paspor yang membuat pengeluaran jadi lebih banyak.

Tapi, saya kekeuh ngurus sendiri. Saya masih ingat saat itu harus bolak-balik sebanyak 4-5 ke kantor imigrasi. Pertama untuk meminta informasi mengenai dokumen apa saja yang harus saya siapkan. Saat itu juga sekalian membeli map berisi formulir dan daftar dokumen kelengkapan pengurusan paspor. Salah satu dokumen yang perlu dilampirkan adalah SKKB alias Surat Keterangan Kelakuan Baik. Untuk mengurus SKKB harus meminta surat keterangan dari RT/RW hingga kantor polisi. “Bikin paspor mau pergi ke mana nih?” Tanya Pak RT ketika saya sowan ke rumahnya. Terus terang ada rasa sungkan. Sebagai warga kampung, kesannya kok saya mewah-mewahan banget, bikin paspor mau ke luar negeri. Meski barangkali itu hanya perasaan saya saja. “Buat nyari beasiswa kok, Pak,” jawab saya akhirnya. Padahal, nyari beasiswa kan nggak harus punya paspor duluan ya? Biarin lah, sekedar biar terkesan ke luar negeri bukan semata untuk piknik, tapi mengemban tugas mulia dan ada yang menyeponsori.

Setelah dokumen lengkap beberapa hari kemudian, saya kembali ke kantor imigrasi. Petugas memeriksa dokumen saya dan dinyatakan lengkap. Lalu saya dipersilakan ke loket kassa untuk membayar biaya paspor. Biayanya sekitar 300rb-an, harga resmi tanpa calo. Saya menerima tanda terima pembayaran dan jadwal pemotretan yang dilakukan 2 hari kemudian. Artinya untuk ketiga kalinya saya harus kembali ke kantor imigrasi.

Saat pemotretan ini sekalian dengan wawancara. Petanyaannya persis yang dilontarkan Pak RT. Dan jawaban yang saya berikan pun sama persis: ngurus paspor untuk nyari beasiswa. “Ke negara mana?” lanjur petugas lagi. “Ke Jerman, Pak,” jawab saya penuh keyakinan, meski sebenarnya asal-asalan aja. Pokoknya, biar berkesan saya nggak akan bertindak mewah-mewahan pelesir ke luar negeri. Tapi bergaya ala orang pinter yang duitnya pas-pasan tapi banyak yang ngongkosin. Petugas tidak bertanya-tanya lagi. Lalu menginfokan bahwa paspor bisa diambil dalam waktu 5 hari kerja. Saya pun lega melenggang keluar ruangan.

Ternyata mengurus paspor itu mudah, nggak sesulit yang diceritakan banyak orang. Juga nggak seserem seperti yang digambarkan mengenai wajah-wajah calo yang berkeliaran di ruang tunggu. Biaya paspor yang saya bayarkan pun sesuai yang tertera di papan pengumuman. Padahal konon, ada yang mengaku habis 500rb – 1juta untuk mengurus paspor.

Lima hari kemudian saya kembali ke kantor imigrasi dengan hati riang. Hari ini saya akan terlihat sedikit lebih keren karena sudah punya paspor. “Maaf, ada penggantian buku paspor baru. Sekarang pas fotonya tidak ditempel lagi, tapi harus digital menyatu dengan biodata pemegang paspor,” petugas memberikan penjelasan bahwa paspor saya belum selesai dan baru bisa diambil lima hari kemudian. Nggak jadi keren deh. Malah jadi sedikit kecewa, karena saya harus kembali ke kantor imigrasi lagi. Lumayan juga bolak-balik dari tempat kerja ke kantor imigrasi. “Paspornya buru-buru mau dipake ya?” Tanya petugas yang menangkap raut kecewa saya. “Bisa saya bantu kalo mau cepet selesai,” tambahnya lagi yang membuat saya sedikit tersentak. Waduh, jangan-jangan dia sudah mulai mempraktekkan jurus percaloan. Saya buru-buru menggeleng. “Nggak kok, saya masih lama perginya….”

Maka ketika jadwal pengambilan paspor tiba, saya memilih menundanya beberapa hari kemudian. Entar-entar aja deh ngambilnya. Daripada nanti dibilang jika paspornya belum keluar lagi. Jika saya mengambilnya 2-3 minggu kemudian, mereka tidak punya alasan untuk mengatakan bahwa paspor saya belum selesai kan? Toh saya nggak buru-buru menggunakannya.

Bahkan paspor itu sudah berusia lebih dari 2 tahun ketika akhirnya saya kesampaian per,gi ke luar negeri dan disponsori, meski bukan untuk studi.

Ceritanya di akhir tahun 2000 saya mengikuti lomba penulisan yang diadakan sebuah tabloid Cita-Cinta Femina Group. Hadiah utamanya adalah jalan-jalan ke Hong Kong untuk 3 orang pemenang. Salah satu persyaratan lomba tersebut adalah memiliki paspor yang masih aktif. Kepake juga nih paspor saya sebagai jaminan untuk mengikuti kompetisi. Siapa tahu bisa pelesiran gratis, kalopun nggak menang juga biasa dalam sebuat pertandingan. Maka saya pun bersemangat membuat tulisan bertema Perempuan Karier.

Beberapa waktu menjelang tanggal pengumuman pemenang, saya mendapat telepon dari Redaksi. Saya masih ingat, saat itu lagi nyetir mobil dalam perjalanan pulang ke rumah dari kantor. “Tita, saya mau nanya, paspor kamu masih berlaku nggak?” Tanya Mbak Redaksi. “Minimal masih 6 bulan nggak?” Tanyanya lagi sebelum saya menjawab. “Masih lama, Mbak. Kalo nggak salah sampai tahun 2003,” jawab saya. “Memang kenapa?” Saya udah mulai deg-degan ditanyain soal paspor. Jangan-jangan…”Kamu salah satu pemenang ke Hong Kong….,” jawab si Mbak bikin saya histeris.

“HHAA? BENERAN?” Saya kegirangan bukan kepalang. “Iyaaa, beneerr…!” Mbak Redaksi mencoba menyakinkan saya. “Makanya kami konfirmasi dulu mengenai masa belaku paspormu. Ntar lihat pengumumannya di majalah jika udah terbit ya…” Dan ketika seminggu kemudian majalah itu terbit langsung saya serahkan kepada orang tua saya, “Nih, beneran kan, aku mau ke Hong Kong.” Mereka nggak ragu-ragu lagi dengan kabar gembira yang saya sampaikan sebelumnya.

Begitulah mimpi, kadang-kadang dia datang tanpa pernah kita nyana. Karena itu, ibarat pepatah “sedia payung sebelum hujan”, maka nggak ada salahnya “sedia paspor sebelum ke luar negeri”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s