Kartu Pos dari Negeri Jauh

bis_surat_nepal.jpg

Apakah Anda gemar berkirim kartu pos selagi berlibur ke luar negeri? Nggak pernah ya? Kenapa? Karena sudah ada  SMS, BBM, WhatsApp, atau berbagai aplikasi lainnya yang lebih praktis untuk berkirim kabar. Mau telponan hemat juga bisa dengan aplikasi semacam Skype dan Line. Begitu pula jika ingin memamerkan suasana negara yang sedang dikunjungi, bisa posting foto dan update status di sosial media. Semua sudut kota yang kita singgahi dengan mudah terekam lewat kamera ponsel dan diunggah ke laman sosial media begitu nemu jaringan free wi-fi di hotel. 

Saya pun termasuk traveler narsis yang gemar posting foto dan update status selagi melancong. Males rasanya menulis kartu pos, membubuhi perangko, kemudian membawanya ke kantor pos atau memasukkannya di bis surat terdekat. Bisa-bisa, saya sudah tiba di Tanah Air dan kartu pos itu belum sampai kan?

Alasan yang realistis itu perlahan runtuh ketika suatu hari saya melihat sepasang turis bersama kedua anak lelakinya tengah sibuk menulis kartu pos bergambar kota Yogyakarta, kampung halaman saya. Sebenarnya pemandangan ini tak asing bagi saya. Sudah biasa saya melihat turis-turis yang tengah berlibur di Yogyakarta memborong kartu pos bergambar keindahan negeri kita.

Namun pemandangan kali ini mampu mengetuk hati saya. Siang itu kami duduk bersebelahan di sebuah kafe di Malioboro. Sepasang suami istri turis itu tampak asyik menulis beberapa lembar kartu pos sambil sesekali menyeruput minuman orange juice di mejanya. Kedua anak lelakinya, kira-kira berusia 8-10 tahun, juga terlihat sibuk menggerak-gerakkan pena di atas selembar kartu pos. Sambil menulis mereka juga bercakap dengan bahasa yang tidak saya pahami artinya, meski saya kenali bahasa Jermannya.

Sembari menikmati santapan, saya dan suami yang sama-sama memperhatikan keasyikan mereka berkutat dengan beberapa lembar kartu pos untuk keluarga dan kerabatnya, jadi tergoda juga untuk ikutan memulai kembali tradisi berkirim kartu pos. Kayaknya seru juga jika lagi liburan ke Eropa atau negeri lain, gantian saya berkirim kartu pos ke Yogyakarta. Tentu saja bukan mengirimi semua kerabat dan sahabat. Cukuplah berkirim kartu pos itu untuk Si Kecil di rumah yang nggak ikutan traveling.

Apa salahnya mencoba kan? Biar berasa turis beneran. Maka jadilah saya menyisipkan agenda baru yang tak boleh dilewatkan selagi traveling ke Eropa. Membeli kartu pos di tiap kota atau negara yang saya singgahi, menulis beberapa kalimat di baliknya, menempeli perangko, dan kemudian memasukkannya dalam bis surat.

Tidak sulit menemukan bis surat di Eropa. Jangankan di kawasan wisata, rasanya tiap radius sekitar 500 meter, ada bis surat yang nangkring di trotoar jalan. Di bagian luar bis surat juga ditempeli jadwal pengambilan surat oleh petugas pos. Sehingga saat memasukkan surat atau kartu pos, kita sudah bisa tahu hari apa dan jam berapa surat-surat tersebut akan diangkut oleh petugas pos.

Tiba-tiba saya jadi ingat nasib bis-bis surat yang ada di kota saya, yang juga senasib dengan kota-kota lain di Indonesia. Bis surat yang tak terawat, penuh dengan tempelan poster iklan, sampe-sampe saya nggak yakin apakah jika kartu pos dimasukkan ke dalamnya akan terangkut oleh petugas pos atau diabaikan.

Suatu ketika, di bandara Halim Perdanakusumah Jakarta, saya melihat seorang cowok bule tampak kebingungan di depan kantor pos yang masih tutup. Saat itu masih sekitar pukul 07.00, kantor pos memang belum buka. Ia tengah mengamat-amati sebuah kotak besar berwarna oranye yang diletakkan persis di depan kantor pos. Bentuknya mirip bis surat karena di bagian atas sisi kanan kiri terdapat lubang memanjang, menyerupai tempat memasukkan surat. Namun karena tak ada informasi apapun di kotak tersebut, juga tak ada tulisan semacam Mail Box atau sejenisnya, membuatnya bingung dan ragu untuk memasukkan beberapa lembar kartu pos yang dibawanya. Lalu ia pun menghampiri kawan-kawannya yang tengah ngopi tak jauh dari meja saya yang pagi itu juga tengah mencari kehangatan dalam secangkir coklat panas. Sesaat kemudian bersama kedua temannya mereka kembali ke kantor pos, mengamati kembali kotak besar warna oranye itu. Mimik wajahnya tampak heran, mengangkat kedua bahu sambil saling senyum nyengir, dan akhirnya kembali ke meja kafe. Kartu pos tak jadi dimasukkannya ke kotak surat yang membuatnya ragu itu.

Pemandangan yang sungguh menyedihkan itu tak saya temui di Eropa. Mudahnya menemukan bis surat di tiap sudut jalan di kota-kota di Eropa, menunjukkan masyarakatnya memang masih gemar berkirim surat. Terus terang saya kagum, di era digital seperti ini ternyata berkirim surat dan kartu pos masih menjadi bagian keseharian masyarakat Eropa.

Dan kini, saya tengah berupaya menghidupkan kembali tradisi berkirim kartu pos yang sudah puluhan tahun terkubur. Tentu kartu pos yang saya kirimkan bukan berfungsi untuk memberi kabar, karena kemudahan teknologi memungkinan bisa kabar-kabari setiap saat meski tengah berada di negeri jauh. Kartu pos yang saya kirimkan untuk Si Kecil di rumah lebih berfungsi sebagai suvenir dan media bercerita.

Memilih-milih kartu pos yang cocok untuk Si Kecil yang belum bisa membaca ternyata tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Saya sempat keluar masuk beberapa toko suvenir hingga akhirnya menemukan kartu pos yang unik dan mudah dipahami oleh nalar bocah umur 5 tahun.

Saat di Paris, saya mengirim kartu pos bergambar bocah perempuan yang tengah berdiri di sebuah jembatan di Sungai Seine, Paris. Kartu pos saya kirim tanggal 6 Agustus 2014 dan baru tiba tanggal 23 Agustus 2014. Saya sudah duluan tiba di Tanah Air ketimbang kartu pos yang saya kirim. Tapi tak mengapa, karena tujuan berkirim kartu bukan lagi untuk berkirim kabar, namun sebagai suvenir dan media bercerita.

Maka berceritalah saya pada Si Kecil sambil memegang kartu pos tersebut. “Kartu pos ini, Ibu kirim saat Ibu di Paris. Paris adalah kota besar yang cantik dengan sungai lebar yang membelah kotanya. Namanya Sungai Seine. Suatu hari nanti, kamu akan jalan-jalan ke Paris, naik perahu menyusur Sungai Seine yang indah ini…” saya membacakan beberapa kalimat yang saya tulis di kartu pos itu. Si Kecil takjub, “Jadi ini aku ya, Bu?” tanyanya sambil menunjuk gambar bocah kecil yang ada dalam kartu pos tersebut. Saya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ditempelkan kartu pos itu di white board kamarnya. Jika ada yang bertanya foto siapa yang ada dalam kartu pos itu, maka ia akan menjawab, “ini aku kalau sudah besar.”

Beberapa puluh tahun kemudian, mungkin kartu pos ini akan menjadi salah satu suvenir terindah yang dimiliki putri saya.

 

(Foto: Kotak surat di Kathmandu, Nepal. Koleksi Matatita).

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s