Banyak Gincu di Nisanmu

Sebuah makam yang terletak di divisi 20 kuburan Montparnasse, Paris, membuat langkah saya terhenti diiringi mata terbelalak dan mulut melongo, takjub. Nisan berukuran persegi yang memuat dua nama beken Jean Paul Sartre dan Simone de Beauvoir itu dipenuhi kecupan bibir bergincu! Baru kali ini saya melihat batu nisan penuh gincu.

Pasangan yang dikubur dalam satu nisan itu bukanlah sejoli abege. Saat mereka meninggal, usianya pun tak lagi muda. Sudah seusia kakek dan nenek, lebih dari 70 tahun. Jadi, mengapa orang gemar memberikan kecupan pada batu nisannya sampai klomoh begitu? Dalam diam keterpakuan, berbagai pertanyaan dan kegumunan masih memenuhi kepala saya.

Lalu saya duduk di bangku kosong yang kebetulan berada dekat makam. Sartre dan Simone adalah filsuf besar Perancis. Siapapun yang mempelajari ilmu sosial dan humaniora, bisa dipastikan pernah membaca karyanya. Minimal membaca salah satu artikelnya, jika nggak sempat baca bukunya. Sartre adalah filsuf yang dikenal dengan pemikiran eksistensialisme, sementara Simone, seorang filsuf feminis.

Sebenarnya, tujuan saya ke Montparnasse Cemetery ini juga untuk mengunjungi makam Sartre. Rasanya nggak afdol, sudah beberapa kali ke Paris, sudah pula ke kompleks pemakaman terbesar Pere Lachais, masak nggak ziarah ke makam Sartre. Di akhir bulan Desember yang dingin, akhirnya kesampaian juga niatan saya. Mengunjungi makam seorang filsuf yang namanya beberapa kali saya kutip dalam paper kuliah.

Sepanjang saya duduk terpaku di bangku dekat makam Sartre, beberapa turis singgah silih berganti. Sebagian besar turis perempuan. Beberapa ada yang berfoto ria. Saya mau juga ah. Lalu saya pun meminta tolong salah satu dari mereka untuk mengabadikan momen ziarah ini. Cukuplah berfoto, karena saya nggak pernah pake lipstick, jadi nggak bisa ikut-ikutan mencium nisannya sampe klomoh.

Rupanya, kecupakan di nisan Sartre dan Simone belumlah seberapa. Di kompleks pemakaman Pere Lachaise, nisan Oscar Wilde, sastrawan asal Irlandia, ternyata jauh lebih klomoh karena dipenuhi gincu yang berasal dari ribuan bibir para pemujanya. Sudah puluhan kali gincu-gincu dibersihkan, tetap saja para pemujanya yang datang berlomba meninggalkan jejak gincu.

Pada tahun 2001 pihak keluarga harus memasang dinding kaca setinggi 2 meter di sekeliling nisan agar pengunjung tidak melakukan vandalisme bibir. Harapannya, tak ada lagi yang menciumi nisan monumen Oscar Wilde. Nyatanya  tetap saja bagian atas yang tak tertutup dinding kaca menjadi sasaran ciuman dan gincu. Entah bagaiman mereka memanjat sehingga bisa meninggalkan jejak gincu.

PLEASE RESPECT FOR THIS MEMORIAL. OUT OF RESPECT FOR THIS GRAVE, PLEASE DO NOT SULLY BY ANY MARK. THE CLEANING FEES ARE EXCLUSIVELY PAID BY THE FAMILY.

Papan kecil berisi woro-woro peringatan yang diletakkan di bawah nisan monumen Oscar Wilde itu membuat saya tersayat. Bisa saya bayangkan bagaimana keluarga Oscar Wilde begitu kerepotan membersihkan sampah gincu ini. Gincu-gincu ini sudah menjadi masalah serius karena pewarna gincu bisa masuk ke dalam pori-pori batu monumen. Setiap kali dilakukan pembersihan dengan cara menyikat, sedikit banyak juga akan mengikis tekstur dan pahatan batu monumen.

“A kiss may ruin the human life,” begitu Oscar Wilde pernah menuliskan dalam naskah drama A Woman of No Importance. Hhmm, akankah ciuman bergincu bisa menghancurkan nisam monumennya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s